Mengapa Protein Dibutuhkan Dalam Pakan Ternak Sapi?
Keberhasilan usaha peternakan sapi, baik itu sapi potong, sapi kerja, maupun sapi perah sangat tergantung dari pemberian pakan yang cukup dan memenuhi syarat. Namun perlu disadari bahwa pemberian pakan yang cukup dan memenuhi syarat-syarat ini tidak akan dapat mengubah sifat genetik sapi. Besar tubuh sapi Bali tidak dapat diubah menyerupai sapi Hereford, tetapi pemberian pakan yang cukup dan memenuhi syarat pasti akan dapat memunculkan sifat bawaannya yang baik, misalnya pertumbuhannya menjadi lebih sempurna dan lebih cepat, dan persentase karkasnya menjadi lebih tinggi, dan lebih tahan terhadap penyakit (Sampurna, 2009).
Pemberian pakan pada ternak sapi, baik potong maupun sapi perah harus dilakukan secara kontinyu sehingga pertumbuhannya tidak terganggu. Pemberian pakan yang tidak berkesinambungan akan menimbulkan goncangan pertumbuhan sapi. Keadaan ini sering ditemukan pada sapi Bali yang dipelihara di daerah pegunungan/daerah dataran tinggi yang pengairannya tergantung dari air hujan, seperti di NTT. Pada musim hujan, sapi Bali yang dipelihara tumbuh dan bertambah memenuhi syarat. Akan tetapi, pada musim kemarau pertumbuhannya atau bobot badannya dapat menurun secara dratis, sebab selama musim kemarau persediaan pakan dan daya cerna sapi akan hijauan menjadi berkurang.
Hal ini terutama disebabkan oleh hilangnya energi, mineral dan protein yang terkandung dalam hijauan/rerumputan akibat kekurangan air. Dengan demikian, hijauan/rerumputan yang diberikan kepada ternak tidak lagi memenuhi syarat, bahkan jumlahnyapun tidak mencukupi kebutuhan sapi. Sebagai akibatnya ialah: pertumbuhan terhambat, sapi yang sudah dewasa berat badannya menurun/kurus, sehingga tidak memenuhi syarat sebagai sapi potong. Perkembangbiakannya terhambat karena fertilitasnya menurun, persentase karkasnya juga sangat rendah.
Oleh karena itu, peternak harus berusaha memberi pakan yang cukup dan memenuhi syarat sesuai dengan kebutuhan sapi. Ransum sapi yang memenuhi syarat ialah ransum yang mengandung protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, dan air dalam jumlah yang cukup.
Protein asal hewan (hewani) lebih baik ketimbang protein asal tanaman (nabati), sebab kandungan asam amino esensial dan nilai gizinya lebih tinggi. Bahan pakan yang berkadar protein tinggi ialah yang susunan proteinnya mendekati susunan protein tubuhnya. Protein hewani dapat diproses kembali menjadi protein jaringan dengan resiko kerugian yang sangat kecil bila dibandingkan dengan pengolahan protein nabati seperti jagung dan jerami.
Ternak ruminansia, termasuk sapi, tidak membutuhkan protein yang bermutu tinggi di dalam pakannya, sebab di dalam rumen dan ususnya yang panjang itu, pakan diolah oleh jasad renik. Namun, jika protein yang diberikan adalah protein yang telah usang dan terurai, maka protein atau asam-asam amino dalam pakan harus ditingkatkan pula. Oleh karena itu, jika sapi hanya diberi pakan berupa jerami, khususnya sapi penggemukan, maka kekurangan unsur protein/asam-asam amino dan unsur lainnya dapat ditutupi dengan pemberian pakan tambahan yang banyak mengandung protein, lemak dan karbohidrat. Kadar serat kasar tinggi dan kekurangan unsur protein, lemak dan karbohidrat dalam jerami menyulitkan pencernaan. Data berikut ini adalah data kebutuhan untuk sapi yang sedang tumbuh dan digemukkan.
Diketahui bahwa kebutuhan asam amino ruminan dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya status fisiologis dari hewan bersangkutan, tingkat pertumbuhan atau produksi lainnya yang dipengaruhi oleh tingkat konsumsi energi, komposisi tubuh yang dipengaruhi oleh status nutrisi sebelumnya, proporsi asam amino terserap (keseimbangan), efisiensi pembentukan sel mikroba rumen dan tingkat ketersediaannya, pola fermentasi yang mempengaruhi ketersediaan VFA yang glokogenik (propionat, valerat, dan isobutirat) dan kebutuhan akan glukosa (Parakkasi, 1998). Lebih lanjut dikatakan ketidakefisienan ruminan dibanding monogastrik dalam menggunakan bahan makanan berprotein tinggi (sumber protein) dapat merupakan salah satu sebab mengapa monogastrik lebih disukai dalam produksi daging kecuali bila menguasai prinsip dasar penggunaan N pada ruminan tersebut.
Protein berfungsi untuk memperbaiki dan menggantikan sel tubuh yang rusak (misalnya pada sapi lanjut usia), pembentukan sel-sel baru dari tubuhnya (misalnya pada pedet) berproduksi (misalnya pada sapi dewasa) dan diubah menjadi energi (misalnya pada sapi kerja). Protein lebih banyak dibutuhkan oleh sapi muda yang sedang tumbuh dibandingkan sapi dewasa. Karena unsur protein tidak dapat dibentuk dalam tubuh, padahal sangat mutlak diperlukan, oleh karena itu sapi harus diberi pakan yang cukup mengandung protein. Sumber protein bagi sapi adalah hijauan dari jenis leguminosa seperti Centrosema pubescens, daun turi, lamtoro dan pakan tambahan berupa penguat seperti bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, katul, tepung darah, tepung ikan, tepung daging dan lain-lain.
Keberhasilan usaha peternakan sapi, baik itu sapi potong, sapi kerja, maupun sapi perah sangat tergantung dari pemberian pakan yang cukup dan memenuhi syarat. Namun perlu disadari bahwa pemberian pakan yang cukup dan memenuhi syarat-syarat ini tidak akan dapat mengubah sifat genetik sapi. Besar tubuh sapi Bali tidak dapat diubah menyerupai sapi Hereford, tetapi pemberian pakan yang cukup dan memenuhi syarat pasti akan dapat memunculkan sifat bawaannya yang baik, misalnya pertumbuhannya menjadi lebih sempurna dan lebih cepat, dan persentase karkasnya menjadi lebih tinggi, dan lebih tahan terhadap penyakit (Sampurna, 2009).
Pemberian pakan pada ternak sapi, baik potong maupun sapi perah harus dilakukan secara kontinyu sehingga pertumbuhannya tidak terganggu. Pemberian pakan yang tidak berkesinambungan akan menimbulkan goncangan pertumbuhan sapi. Keadaan ini sering ditemukan pada sapi Bali yang dipelihara di daerah pegunungan/daerah dataran tinggi yang pengairannya tergantung dari air hujan, seperti di NTT. Pada musim hujan, sapi Bali yang dipelihara tumbuh dan bertambah memenuhi syarat. Akan tetapi, pada musim kemarau pertumbuhannya atau bobot badannya dapat menurun secara dratis, sebab selama musim kemarau persediaan pakan dan daya cerna sapi akan hijauan menjadi berkurang.
Hal ini terutama disebabkan oleh hilangnya energi, mineral dan protein yang terkandung dalam hijauan/rerumputan akibat kekurangan air. Dengan demikian, hijauan/rerumputan yang diberikan kepada ternak tidak lagi memenuhi syarat, bahkan jumlahnyapun tidak mencukupi kebutuhan sapi. Sebagai akibatnya ialah: pertumbuhan terhambat, sapi yang sudah dewasa berat badannya menurun/kurus, sehingga tidak memenuhi syarat sebagai sapi potong. Perkembangbiakannya terhambat karena fertilitasnya menurun, persentase karkasnya juga sangat rendah.
Oleh karena itu, peternak harus berusaha memberi pakan yang cukup dan memenuhi syarat sesuai dengan kebutuhan sapi. Ransum sapi yang memenuhi syarat ialah ransum yang mengandung protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, dan air dalam jumlah yang cukup.
Protein asal hewan (hewani) lebih baik ketimbang protein asal tanaman (nabati), sebab kandungan asam amino esensial dan nilai gizinya lebih tinggi. Bahan pakan yang berkadar protein tinggi ialah yang susunan proteinnya mendekati susunan protein tubuhnya. Protein hewani dapat diproses kembali menjadi protein jaringan dengan resiko kerugian yang sangat kecil bila dibandingkan dengan pengolahan protein nabati seperti jagung dan jerami.
Ternak ruminansia, termasuk sapi, tidak membutuhkan protein yang bermutu tinggi di dalam pakannya, sebab di dalam rumen dan ususnya yang panjang itu, pakan diolah oleh jasad renik. Namun, jika protein yang diberikan adalah protein yang telah usang dan terurai, maka protein atau asam-asam amino dalam pakan harus ditingkatkan pula. Oleh karena itu, jika sapi hanya diberi pakan berupa jerami, khususnya sapi penggemukan, maka kekurangan unsur protein/asam-asam amino dan unsur lainnya dapat ditutupi dengan pemberian pakan tambahan yang banyak mengandung protein, lemak dan karbohidrat. Kadar serat kasar tinggi dan kekurangan unsur protein, lemak dan karbohidrat dalam jerami menyulitkan pencernaan. Data berikut ini adalah data kebutuhan untuk sapi yang sedang tumbuh dan digemukkan.
Tabel 1. Kebutuhan Protein
(g/hari)2 untuk sapi yang sedang tumbuh dan digemukkan[1]
Bobot
Badan (Kg)
|
150
|
200
|
250
|
300
|
350
|
400
|
450
|
500
|
550
|
600
|
PBB/hari
(Kg)
|
Kebutuhan
Protein
|
|||||||||
Anak
Sapi Kebiri, Kerangka, Sedang
|
||||||||||
0,2
|
343
|
399
|
450
|
499
|
545
|
590
|
633
|
675
|
715
|
|
0,4
|
428
|
482
|
532
|
580
|
625
|
668
|
710
|
751
|
790
|
|
0,6
|
503
|
554
|
601
|
646
|
688
|
728
|
767
|
805
|
842
|
|
0,8
|
475
|
621
|
664
|
704
|
743
|
780
|
815
|
849
|
883
|
|
1,0
|
642
|
682
|
720
|
755
|
789
|
821
|
852
|
882
|
911
|
|
1,2
|
702
|
735
|
766
|
794
|
822
|
848
|
873
|
897
|
921
|
|
Anak
Sapi Kebiri, Kerangka Besar, Sapi Kebiri Umur 1 Tahun, Kerangka Sedang, Sedang
Berkompensasii
|
||||||||||
0,2
|
361
|
421
|
476
|
529
|
579
|
627
|
673
|
719
|
762
|
805
|
0,4
|
441
|
499
|
552
|
603
|
651
|
697
|
742
|
785
|
827
|
867
|
0,6
|
522
|
576
|
628
|
676
|
722
|
766
|
809
|
850
|
890
|
930
|
0,8
|
598
|
650
|
698
|
743
|
786
|
828
|
867
|
906
|
944
|
988
|
1,0
|
671
|
718
|
762
|
804
|
843
|
881
|
918
|
953
|
988
|
1021
|
1,2
|
740
|
782
|
822
|
859
|
895
|
929
|
961
|
993
|
1023
|
1053
|
1,4
|
806
|
842
|
877
|
908
|
938
|
967
|
995
|
1022
|
1048
|
1073
|
1,6
|
863
|
892
|
919
|
943
|
967
|
989
|
1011
|
1031
|
1052
|
1071
|
Sapi
Jantan , Kerangka Sedang
|
||||||||||
0,2
|
345
|
401
|
454
|
503
|
550
|
595
|
638
|
689
|
721
|
761
|
0,4
|
430
|
485
|
536
|
584
|
629
|
673
|
716
|
757
|
797
|
835
|
0,6
|
509
|
561
|
609
|
655
|
698
|
740
|
780
|
819
|
856
|
893
|
0,8
|
583
|
632
|
677
|
719
|
759
|
798
|
835
|
871
|
906
|
940
|
1,0
|
655
|
698
|
739
|
777
|
813
|
849
|
881
|
914
|
945
|
976
|
1,2
|
722
|
769
|
795
|
828
|
860
|
890
|
919
|
847
|
878
|
1001
|
1,4
|
782
|
813
|
841
|
868
|
893
|
917
|
941
|
963
|
985
|
1006
|
Anak
Sapi Jantan, Kerangka Besar, dan Sapi Kebiri Umur 1 Tahun, Kerangka Besar,
Sedang Berkompensasi
|
||||||||||
0,2
|
355
|
414
|
468
|
519
|
568
|
615
|
661
|
705
|
747
|
789
|
0,4
|
438
|
494
|
547
|
597
|
644
|
689
|
733
|
766
|
817
|
857
|
0,6
|
519
|
574
|
624
|
672
|
718
|
761
|
803
|
844
|
884
|
923
|
0,8
|
597
|
649
|
697
|
741
|
795
|
826
|
866
|
905
|
942
|
979
|
1,0
|
673
|
721
|
765
|
807
|
847
|
885
|
922
|
958
|
994
|
1027
|
1,2
|
745
|
789
|
830
|
868
|
904
|
939
|
973
|
1005
|
1073
|
1067
|
1,4
|
815
|
854
|
890
|
924
|
956
|
986
|
1016
|
1045
|
1072
|
1099
|
1,6
|
880
|
912
|
943
|
971
|
998
|
1024
|
1048
|
1072
|
1095
|
1117
|
1,8
|
922
|
942
|
962
|
980
|
997
|
1013
|
1028
|
1043
|
1057
|
1071
|
Anak
Sapi Betina, Kerangka Sedang
|
||||||||||
0,2
|
323
|
374
|
421
|
465
|
508
|
549
|
588
|
626
|
662
|
|
0,4
|
409
|
459
|
505
|
549
|
591
|
630
|
669
|
706
|
742
|
|
0,6
|
477
|
522
|
563
|
602
|
638
|
674
|
708
|
741
|
773
|
|
0,8
|
537
|
574
|
608
|
640
|
670
|
700
|
728
|
755
|
781
|
|
1,0
|
562
|
583
|
603
|
621
|
638
|
654
|
670
|
685
|
700
|
|
Anak
Sapi Betina, Kerangka Besar, dan Sapi Betina Umur 1 Tahun, Kerangka Sedang,
sedang berkompensasi
|
||||||||||
0,2
|
342
|
397
|
449
|
497
|
543
|
588
|
631
|
672
|
712
|
751
|
0,4
|
426
|
480
|
530
|
577
|
622
|
665
|
707
|
747
|
787
|
825
|
0,6
|
500
|
549
|
596
|
639
|
681
|
721
|
759
|
796
|
832
|
867
|
0,8
|
568
|
613
|
658
|
693
|
730
|
765
|
799
|
833
|
865
|
896
|
1,0
|
630
|
668
|
703
|
735
|
767
|
797
|
826
|
854
|
881
|
907
|
1,2
|
680
|
708
|
734
|
758
|
781
|
803
|
828
|
844
|
864
|
883
|
1) NRC
1985; 2) Berdasar pada Shrunk Liveweight.
Diketahui bahwa kebutuhan asam amino ruminan dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya status fisiologis dari hewan bersangkutan, tingkat pertumbuhan atau produksi lainnya yang dipengaruhi oleh tingkat konsumsi energi, komposisi tubuh yang dipengaruhi oleh status nutrisi sebelumnya, proporsi asam amino terserap (keseimbangan), efisiensi pembentukan sel mikroba rumen dan tingkat ketersediaannya, pola fermentasi yang mempengaruhi ketersediaan VFA yang glokogenik (propionat, valerat, dan isobutirat) dan kebutuhan akan glukosa (Parakkasi, 1998). Lebih lanjut dikatakan ketidakefisienan ruminan dibanding monogastrik dalam menggunakan bahan makanan berprotein tinggi (sumber protein) dapat merupakan salah satu sebab mengapa monogastrik lebih disukai dalam produksi daging kecuali bila menguasai prinsip dasar penggunaan N pada ruminan tersebut.
